David dan Jatisari


 

David (12) siswa kelas 5 SD Jatisari, putra dari Darwanto (35 tahun). Saya tidak tahu kesehariannya kecuali saat berkunjung Minggu 10 Juni lalu di acara pembuatan film pendek arahan mas Ahmad Suhardi seorang warga Jatisari.

Meskipun semua foto dalam post ini adalah hasil arahan, saya yakin dalam kesehariannya pun tidak jauh berbeda. Lugu, ceria khas anak-anak dan selalu ada keinginan bermain. Meski beberapa bulan sebelumnya mereka sekeluarga terkena serangan tomcat, keceriaan di wajahnya masih nampak. Beberapa scene yang harusnya David berlagak sedih, tetap saja senyum terpampang di mukanya, hingga harus beberapa kali scene diulang😀

Baru sekali saya berkunjung ke Jatisari dan bertemu David. Ada keinginan untuk berjumpa kembali🙂

david dkk

David dan kawan-kawan Jatisari-nya.

David

David, usia 12 tahun kelas 5 SD.

david & sawah

David di antara pesawahan berangkat menuju sekolah.

david loncat

Berlarian ke sekolah

david & empring

Menemukan potongan pohon bambu yang kemudian dijadikan celengan.

david & empring 2

Membawa empring (bambu) menyusul kawan-kawannya.

david & barang rongsok

Membantu ayah memilah barang rongsokan.

david & koin

Menemukan koin 100 rupiah.

david & ayah

David dan ayahnya yang diperankan oleh mas Ahmad Suhardi.

lampu templok

Lampu templok di dinding rumah keluarga Darwanto.

pagar rumah

Dari balik pagar bambu ini David menaruh harapan ke dunia luar.

Video tomcat di rumah keluarga Darwanto:

 

8 thoughts on “David dan Jatisari

  1. Realitas David yang sedikit pedih dari kacamara dewasa, tapi pasti tidak demikian dimata David sendiri..So sekarang beralih jadi fotografernya cinematography ya Mas🙂

    • Benar bu Evi, Kepedihannya tak perlu diumbar lagi. Keceriaannya justru menjadi nasihat bagi diri saya.
      Saya juga baru kenal dengan mas Ahmad, pemuda yg giat mengangkat nama desanya.
      Senang bisa diundang ke desanya dan menyaksikan proses pembuatan filmnya.

  2. David, walaupun rumahnya ditengah sawah, tetapi dia rajin mengaji dimusholah meskipun dia harus menempuh jalan pematang sawah yang gelap gulita. saat ada wabah flu burung beberapa tahun yang lalu, keluarga david di sinyalir terjangkit flu burung, sehingga sekeluarga di karantina di rumah sakit Umum, berbagai media cetak dan Eletronikpun berbondong-bondong memberitakan david Sekeluarga, dan beberapa Bulan yang lalu saat sekeluarga david terserang Tomcat media kembali berbondong-bondong mengunjungi rumah geribik david yang ada di tengah sawah.

    Saya tidak tega sebenarnya melihat keluarga David muncul di berbagai berita di media karena penyakitnya, oleh karena itu saya ingin kembali memunculkan Keluarga David ke media tapi bukan karena penyakitnya, melainkan karena kegigihannya dalam mengejar sebuah keinginan untuk dapat menggoes sepeda ke sekolah.

    Semoga bermanfaat

    • mas Ahmad,
      Rumah di tengah sawah/kebun itu angan-angan saya. Jalan dan berlarian di pematang sawah tiap hari itu hal yang luar biasa bagi saya.

      Kapan2 kita makan dan ngopi di rumah David ya…

  3. Menurut saya kebahagiaan tidak bisa di ukur dengan materi. Banyak orang yang belimpah materi tapi tak pernah bahagia, kalaupun ada kesenangan yang didapat dengan materinya juga kesenangan semu, dan jarang hatinya merasa tentram. justru banyak yang hidup berkecukupan tapi selalu ceria.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s