Spirit Krakatau dan Sejarah yang Terabaikan (Lampost, 2013-09-18)


http://lampost.co/berita/spirit-krakatau-dan-sejarah-yang-terabaikan

Berita hampir  satu tahun lalu. Tetapi ada baiknya kita baca lagi sebagai bahan koreksi untuk Festival Krakatau ke-24 tahun 2014 ini. Andai festival ini bisa benar-benar menjadi pesta rakyat masyarakat Lampung,  aamiin.

Jangan lupa tuliskan saran dan kritikmu di bawah, sebagai bahan masukan yang akan disampaikan ke panita Festival Krakatau🙂

——————————————————————————————————

Spirit Krakatau dan Sejarah yang Terabaikan

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co): Saat kita ingin mengetahui tentang Festifal Krakatau di mesin pencari di internet belum ada situs website khusus untuk menjelaskan secara rinci festival yang diselenggarakan untuk ke-23 kalinya di Lampung ini. Hal itu terlontar dalam diskusi budaya di Lampung Post, Selasa (17-9).

Lebih dua abad Gunung Krakatau meletus. Krakatau dalam sejarahnya diperkenalkan oleh seorang kebangsaan Jerman di Banten. Bagian kapal brau di Taman Dipangga, Telukbetung, Bandar Lampung, itu bukti kedahsyatan krakatau memuntahkan lahar panas, debu vulkanik, dan tsunami. Bukti sejarah itu terkesan tidak terawat, rumput yang tak hijau lagi tak indah bila dipandang mata.

“Banyak pemuda Lampung berkumpul di halaman kantor gubernur, halaman masjid agung di depan kantor walikota menandakan masyarakat haus akan hiburan,” kata sastrawan Asaroedin Malik Zulqarnain.

Menurutnya acara Festival Krakatau dituntut menyentuh masyarakat dari kalangan bawah dengan membumikan fastival krakatau.

Penyair Syaiful Irba Tanpaka mengatakan kalau tour krakatau tak perlu hanya dilakukan satu tahun sekali, kalau bisa satu minggu sekali, dua minggu sekali atau satu bulan sekali. Ibarat letusan, harus ada daya ledak (big bang) ke sasarannya seperti dengan pawai budaya. “Warga lampung harus sadar wisata,” kata Syaiful.

Objek krakatau yang jauh akan menjadikan biaya transportasi yang mahal. “Saya punya mimpi untuk membangun museum krakatau dan museum tapis. Itu bisa menjadi ikon Lampung dan menjual wisata ke mancanegara,” katanya.

“Jangankan untuk membuat museum krakatau, pasar seni saja belum rampung,” kata Asaroedin.

Ia mementingkan adanya seminar internasional. “Sejak tahun 1704 saya usul ini tapi belum dilaksanakan,” kata Saiful sambil membuat peserta diskusi tertawa.

Sastrawan dan pengamat pariwisata Isbedi Setiawan menilai hanya menhamburkan uang perayaan festifal krakatau. Cagar Budaya tentang Kampung tua, seperti perkampungan tua di pagar dewa, gunung pesagi Lampung barat, pantai pahawang di pesawaran, pantai marina di Lampung Selatan, Teluk Kiluan di Tanggamus dan artefak (benda peninggalan sejarah) bisa dijadikan wisata Ritual.

Namun akses untuk menuju wisata yang indah di Lampung itu masih amburadul. “Lebih baik festifal krakatau tidak diadakan untuk dua tahun, dananya untuk memperbaiki akses jalan itu, memperbaiki rumah panggung di daerah,” kata Isbedi.

Menurut Isbedi Setiawan, festifal yang umumya memang lebih dari tiga hari dilakukan selama delapan hari di Lampung pada 12-20 Oktober mendatang. “Di Papua pelaksanaan festifal budaya bisa sampai satu bulan. dan orang bule menikmati itu.”

“Objek wisata Religi yang mendatangkan pengunjung nantinya harus benar dilaksanakan, Rumah panggung di Desa Warna, Pagar Dewa, dan Way Lima harus benar benar di lestrarikan, Jangan sampai roboh,” tegas Iswadi.

Ia menilai Pemkab selama ini kalau perkampungan yang didalamnya terdapat rumah panggung asli Lampung belum mendapat perhatian pemerintah. Tak ada uang rehabilitasi.

Iswadi mencontohkan pemerintah Sumatera Barat sudah cukup bagus dalam pelestarian rumah adatnya.

Menurut Isbedi perlu juga membangun krakatau award. Membuat ajang perlombaan festifal puisi, kebudayaan Lampung.

Masri Yahya Kepala dinas kebudayaan dan pariwisata propinsi Lampung mengapresiasi masukan dan ide sastrawan dan pemerhati budaya di Lampung. “Kita memang mak pandai, tapi harapan untuk Lampung harus tetap ada,” kata Masri.

Penyair Panji Utama mengatakan justru pemerintah yang mengecilkan kebudayaan Lampung. “Kita ini mak pandai mencari problem dan solusi di festifal krakatau. Apa yang mau diambil (goal) dari festival krakatau belum belum jelas. Jika ada festival di Hongkong yang fokus pada pengelolaan seni rupa,” kata lelaki penikmat festival ini.

Panji mengaku meski baru sekali datang ke Hongkong, email untuk mengajaknya datang lagi ke Hongkong terus masuk ke inboxnya hingga enam tahun belakangan ini. Ia menilai manajamen budaya di Hongkong sudah baik begitu pula dengan promosinya.

“Kita kalah dengan festifal domba di Garut, disana stakeholder terlibat dan sejahtera, gak penting mendatangkan duta besar,” kata Panji.

Teguh Prasetyo dari komunitas Haritage mengatakan kalau Festival Krakatau yang dilakukan saat ini belum menyentuh masyarakat. Beberapa tahun sebelumnya yang menyangkut masyarakat baru tarian topeng dan napak tilas krakatau.

Ia menyepakati adanya museum krakatau yang didalamnya terdapat kapal brau asli lampung. Namun menurut Teguh museum krakatau sudah didirikan di propinsi Banten belum lama ini.

Karlina Lim seorang pengamat Budaya Sosial menilai akses jalan yang terus harus diperbaiki hingga menjadikan tempat wisata di Lampung bisa terakses dengan waktu cepat. “orang luar negeri lebih menyukai transportasi massal layaknya busway di Jakarta,” kata wanita yang aktif di AJI Lampung ini.

Isbedi menyarankan untuk pemerintah harus bersungguh-sungguh dalam melaksanakan festival krakatau. Perlu adanya evaluasi yang dilakukan oleh tim independen. Ia sedih saat berkunjung ke Way kambas ada rumah panggung tua yang hampir roboh, tangganya sudah rapuh, sang pemilik rumah mengatakan tak ada bantuan dari pemerintah untuk merehab bangunan bersejarah itu.

Masri Kepala Disbudpar menilai seorang arsitek juga masuk ke koridor budaya. Menurut Masri Kebun raya Lampung Barat sudah diprogramkan. Pemerintak Kabupaten Lampung Barat yang 70 persennya adalah hutan harus memelihara hutan tersebut. Sebagai kabupaten konservasi—pelestarian pohon. “Konsepannya sudah sampai ke menhut, IPB dan kebun raya bogor,” kata Masri.

Ia mengamini kalau di bandara internasional cengkareng belum ada buku tentang lampung. Sejarah dan budaya lampung harus dipromosikan segera. Festifal krakatau yang mendunia. Sepertihalnya belangiran, iringan adat saibatin dan pepadun yang harus dilestarikan dan diabadikan ke dalam sebuah karya yang dapat dilihat orang banyak. (Dian Wahyu/L3)

——————————————————————————————————

Baca juga:

Maksimalkan Komunitas

Belum Tersosialisasi Maksimal

4 thoughts on “Spirit Krakatau dan Sejarah yang Terabaikan (Lampost, 2013-09-18)

  1. Sebenernya Lampung punya adat budaya yang banyak banget,,,tapi pengelolaan tempat wisata dan pelestarian budaya hampir tertinggal jauh dengan daerah lain terutama daerah Jawa…lebih baik festival Krakatau ditunda dulu untuk memperbaiki semua infrastruktrur sehingga ketika promosi wisata dalam festival Krakatau,akses menuju tempat2 wisata lebih mudah…. Satu lagi, diperlukan pelestarian budaya bhs Lampung yang sudah hampir punah.. Salam.

  2. Sebenernya Lampung punya adat budaya yang banyak banget,,,tapi pengelolaan tempat wisata dan pelestarian budaya hampir tertinggal jauh dengan daerah lain terutama daerah Jawa…lebih baik festival Krakatau ditunda dulu untuk memperbaiki semua infrastruktrur sehingga ketika promosi wisata dalam festival Krakatau,akses menuju tempat2 wisata lebih mudah…. Satu lagi, diperlukan pelestarian budaya bhs Lampung yang sudah hampir punah.. Salam.

  3. festival budaya itu merupakan salah satu cara mempromosikan pariwisata, lah ini produk pariwisatanya aja belum di packing maksimal udah mau di jual. analoginya pisangnya aja belum digoreng, wajan dan kompor juga nggak ada (baca: infrastruktur) eh udah woro2 jualan pisang goreng. ujung2nya mubajir, jadi ajang ngabisin buget. promo nggak tepat sasaran yg diundang pejabat dan pengusaha travel jadi ajang hahaha hihihi terus dilupakan begitu saja. kenapa nggak ngundang blogger luar impactnya jelas lebih besar di bandingkan ngundang dubes…

  4. Saya berharap agar pemerintah mengelola potensi wisata dengan bijak. Jangan sampai aktifitas pengelolaan malah merusak daya tarik bagi wisatawan. Misalnya pantai Klara, semakin dikembangkan semakin banyak pula pondokan buat wisatawan di sepanjang pantai. Padalah mungkin daya tarik yang ada adalah keindahan pantai, tetapi pantainya tertutup pondokan.
    Saya khawatir obyek wisata yang ada di Lampung, jika dikelola pemerintah malah menghilangkan daya tariknya digantikan fasilitas untuk “memanjakan” wisatawan padahal menghilangkan daya tarik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s